Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue memainkan peran vital dalam penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh. Selama masa tanggap darurat, pelabuhan ini menjadi simpul utama distribusi bantuan logistik kemanusiaan ke berbagai wilayah terdampak.
Hingga 29 Desember 2025, total bantuan yang telah disalurkan melalui pelabuhan tersebut mencapai 505 ton. Bantuan ini terdiri dari berbagai kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana, mulai dari bahan pangan, air bersih, hingga perlengkapan pendukung penanganan darurat.
Keberhasilan distribusi ratusan ton bantuan ini menunjukkan pentingnya peran transportasi laut dalam situasi darurat, khususnya ketika akses darat mengalami gangguan serius akibat bencana alam.
Distribusi Dimulai Sejak Akhir November
Juru Bicara Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menjelaskan bahwa pengiriman bantuan melalui Pelabuhan Ulee Lheue telah dimulai sejak akhir November 2025.
“Pengiriman bantuan pertama kali dimulai pada 30 November 2025 menggunakan kapal Express Bahari 2F,” ujar Murthalamuddin, Sabtu, 10 Januari 2026.
Sejak pengiriman perdana tersebut, distribusi logistik dilakukan secara bertahap dan terjadwal. Pola ini diterapkan untuk memastikan bantuan dapat disesuaikan dengan kebutuhan lapangan yang terus berkembang seiring kondisi bencana.
Pelabuhan Tetap Layani Penumpang di Masa Darurat
Selain berfungsi sebagai pusat distribusi logistik, Pelabuhan Ulee Lheue juga tetap melayani pergerakan penumpang selama masa tanggap darurat. Hal ini menjadi bagian penting dalam menjaga mobilitas masyarakat dan petugas penanganan bencana.
Tercatat sebanyak 890 orang melakukan perjalanan dari dan menuju pelabuhan tersebut. Rute penyeberangan meliputi Pelabuhan Krueng Geukueh dan Pelabuhan Langsa, yang keduanya berperan sebagai titik pendukung distribusi dan mobilisasi sumber daya.
Pelayanan penumpang ini dilakukan dengan pengaturan ketat dan pengawasan ekstra, mengingat situasi darurat menuntut standar keselamatan yang lebih tinggi.
Dukungan Armada Darat dalam Skala Besar
Kelancaran distribusi bantuan melalui Pelabuhan Ulee Lheue tidak lepas dari dukungan armada darat dalam jumlah besar. Murthalamuddin menyebutkan bahwa pergerakan logistik di darat menjadi penopang utama setelah bantuan tiba di pelabuhan.
Armada pendukung tersebut terdiri dari 67 unit kendaraan roda dua, 15 unit kendaraan roda empat, 136 unit skid tank BBG, serta 8 unit mobil tangki. Kendaraan-kendaraan ini digunakan untuk menjangkau lokasi pengungsian, dapur umum, serta wilayah terpencil yang sulit diakses.
Kombinasi transportasi laut dan darat memungkinkan distribusi bantuan berjalan lebih merata, meskipun kondisi infrastruktur masih terdampak banjir dan longsor.
Operasional Terkoordinasi dan Berbasis Keselamatan
Dalam situasi darurat, aspek keselamatan dan keamanan menjadi prioritas utama. Murthalamuddin menegaskan bahwa seluruh operasional pelabuhan dijalankan secara terkoordinasi antara berbagai pihak terkait.
“Seluruh operasional pelabuhan dijalankan secara terkoordinasi dengan mengutamakan aspek keselamatan, keamanan, dan kelancaran pelayanan,” jelasnya.
Koordinasi ini melibatkan otoritas pelabuhan, aparat keamanan, operator kapal, serta tim logistik dan relawan. Penjadwalan yang terencana dilakukan untuk mencegah penumpukan barang dan memastikan setiap pengiriman tepat sasaran.
Peran Strategis Saat Akses Darat Terputus
Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh menyebabkan sejumlah akses jalan darat terputus. Kondisi ini membuat distribusi bantuan melalui jalur darat menjadi sangat terbatas, bahkan tidak memungkinkan di beberapa wilayah.
Dalam situasi tersebut, Pelabuhan Ulee Lheue berfungsi sebagai jalur alternatif yang sangat krusial. Transportasi laut memungkinkan bantuan tetap mengalir tanpa tergantung sepenuhnya pada kondisi jalan.
“Ketika akses darat terputus akibat banjir, Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue berperan strategis memastikan bantuan kemanusiaan dapat tiba tepat waktu dan berkelanjutan,” ujar Murthalamuddin.
Keberadaan pelabuhan ini menjadi penyangga utama rantai pasok logistik kemanusiaan selama masa tanggap darurat.
Dampak Nyata bagi Masyarakat Terdampak
Distribusi 505 ton bantuan logistik memberikan dampak langsung bagi masyarakat terdampak banjir dan longsor. Bantuan tersebut membantu memenuhi kebutuhan dasar ribuan warga yang harus mengungsi atau kehilangan akses terhadap sumber pangan dan air bersih.
Selain itu, keberlanjutan distribusi logistik turut mendukung operasional posko pengungsian dan dapur umum. Tanpa dukungan logistik yang stabil, penanganan bencana berpotensi mengalami kendala serius.
Pemerintah daerah menilai bahwa efektivitas distribusi melalui Pelabuhan Ulee Lheue menjadi salah satu faktor penting dalam menekan dampak sosial dan kemanusiaan dari bencana.
Fondasi Penanganan Bencana ke Depan
Pengalaman penyaluran bantuan melalui Pelabuhan Ulee Lheue selama masa tanggap darurat ini menjadi pembelajaran penting bagi penanganan bencana di masa depan. Infrastruktur pelabuhan terbukti mampu menjadi tulang punggung distribusi ketika jalur darat lumpuh.
Ke depan, penguatan peran pelabuhan dan integrasi sistem logistik lintas moda diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana serupa.
Kesimpulan
Penyaluran 505 ton bantuan logistik melalui Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue menegaskan peran strategis pelabuhan tersebut dalam penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh. Dalam kondisi akses darat terputus, jalur laut menjadi solusi vital untuk memastikan bantuan kemanusiaan tetap mengalir.
Dengan operasional yang terkoordinasi, dukungan armada darat yang memadai, serta fokus pada keselamatan, Pelabuhan Ulee Lheue berhasil menjalankan fungsi krusialnya sebagai simpul utama logistik selama masa tanggap darurat.
Baca Juga : BPS Kembali Raih Anugerah Reksa Bandha Nasional
Cek Juga Artikel Dari Platform : dailyinfo

