PT Pertamina bersama Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID resmi memperkuat kolaborasi strategis dalam upaya mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Kerja sama ini difokuskan pada percepatan hilirisasi batu bara melalui teknologi gasifikasi untuk menghasilkan energi alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Kolaborasi ini menjadi langkah transformatif dalam pengelolaan sumber daya energi domestik. Batu bara yang selama ini lebih banyak diekspor sebagai komoditas mentah akan diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti Synthetic Natural Gas (SNG) dan Dimethyl Ether (DME), yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat maupun industri.
Penandatanganan kerja sama antara Pertamina dan MIND ID menandai fase baru sinergi antar-BUMN strategis dalam mendukung agenda hilirisasi nasional yang dicanangkan pemerintah.
Gasifikasi Batu Bara Jadi Energi Alternatif
Melalui teknologi gasifikasi, batu bara diubah menjadi gas sintetis yang kemudian diproses lebih lanjut. Tahap awal menghasilkan Synthetic Natural Gas (SNG), yang dapat digunakan sebagai bahan bakar industri dan pembangkit. Selanjutnya, gas tersebut dimurnikan dan didehidrasi untuk menghasilkan Dimethyl Ether (DME), bahan bakar alternatif yang memiliki karakteristik serupa dengan LPG.
DME dinilai sangat potensial sebagai substitusi LPG karena dapat digunakan pada infrastruktur eksisting dengan penyesuaian minimal. Selain itu, DME lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil konvensional, karena menghasilkan emisi partikulat yang lebih rendah.
Pengembangan teknologi coal to DME dan coal to SNG ini diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan cadangan batu bara nasional yang melimpah, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Pertamina sebagai Tulang Punggung Distribusi
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan menuju kedaulatan energi Indonesia. Sebagai BUMN energi nasional, Pertamina berkomitmen mengoptimalkan infrastruktur distribusi dan logistik untuk mendukung hasil hilirisasi batu bara.
“Ini adalah langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memastikan energi yang lebih terjangkau bagi masyarakat, sejalan dengan target swasembada energi pemerintah,” ujar Simon dalam keterangan tertulis.
Dalam kolaborasi ini, Pertamina berperan sebagai offtaker sekaligus agregator infrastruktur distribusi. Artinya, Pertamina memastikan produk hilirisasi seperti DME, SNG, dan methanol dapat diserap pasar dan didistribusikan secara efektif ke berbagai wilayah.
Sinergi BUMN untuk Kemandirian Energi
Chief Technology Officer BPI Danantara, Sigit Puji Santoso, menyebut kerja sama ini sebagai wujud nyata sinergi antar-BUMN energi dan pertambangan dalam menjalankan mandat pemerintah. Menurutnya, pendekatan terintegrasi sangat dibutuhkan untuk membangun sistem energi nasional yang tangguh.
“Kolaborasi antar-BUMN strategis dapat memperkuat fondasi energi nasional. Hilirisasi berbasis teknologi menjadi instrumen penting untuk mengoptimalkan sumber daya domestik dan membangun sistem energi yang berorientasi jangka panjang,” kata Sigit.
Ia menambahkan bahwa Indonesia sebagai negara besar dengan kebutuhan energi yang terus meningkat membutuhkan diversifikasi sumber energi. Gasifikasi batu bara menjadi salah satu solusi realistis untuk menjawab tantangan tersebut.
Nilai Tambah Ekonomi dan Lapangan Kerja
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menekankan bahwa kerja sama ini bukan hanya soal energi, tetapi juga penguatan struktur industri nasional. Hilirisasi batu bara akan menciptakan rantai nilai baru di dalam negeri.
“Melalui kerja sama dengan Pertamina, MIND ID berkomitmen mendorong hilirisasi yang memberikan nilai tambah ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan daya saing industri, serta membuka lapangan kerja baru,” ujar Maroef.
Dengan pengembangan industri hilir, daerah penghasil batu bara berpotensi memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar, mulai dari peningkatan investasi hingga penyerapan tenaga kerja lokal.
Jawaban atas Defisit LPG Nasional
Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi LPG nasional diproyeksikan mencapai sekitar 10 juta metrik ton pada 2026. Sementara itu, produksi LPG domestik masih berada di kisaran 1,3–1,4 juta metrik ton per tahun.
Kesenjangan besar antara kebutuhan dan produksi inilah yang menyebabkan Indonesia sangat bergantung pada impor LPG. Kondisi tersebut membuat sektor energi rentan terhadap fluktuasi harga global dan tekanan neraca perdagangan.
Melalui pengembangan coal to DME dan coal to SNG, sinergi Pertamina dan MIND ID diharapkan mampu menutup sebagian defisit tersebut dengan memanfaatkan sumber daya domestik yang melimpah.
Fondasi Energi Berkelanjutan Jangka Panjang
Meski berbasis batu bara, hilirisasi melalui gasifikasi dinilai sebagai langkah transisi yang realistis menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Dengan teknologi yang tepat, emisi dapat ditekan dan efisiensi energi ditingkatkan.
Pemerintah menilai proyek ini sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk menjaga ketahanan energi nasional, sembari terus mengembangkan energi baru dan terbarukan.
Kolaborasi Pertamina dan MIND ID menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak lagi hanya berorientasi ekspor, tetapi diarahkan untuk memperkuat kebutuhan dalam negeri dan menciptakan nilai tambah maksimal bagi perekonomian nasional.
Kesimpulan
Kerja sama strategis antara Pertamina dan MIND ID dalam hilirisasi batu bara menjadi DME dan SNG merupakan langkah penting menuju kemandirian energi Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi gasifikasi, Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan impor LPG, memperkuat struktur industri nasional, serta meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik.
Sinergi antar-BUMN ini tidak hanya menjawab tantangan energi saat ini, tetapi juga meletakkan fondasi bagi sistem energi nasional yang lebih tangguh, efisien, dan berorientasi jangka panjang.
Baca Juga : 505 Ton Bantuan Disalurkan Lewat Pelabuhan Ulee Lheue
Cek Juga Artikel Dari Platform : wikiberita

