Banjir Susulan Rendam Lima Desa di Jeunib Aceh
Banjir susulan kembali melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireuen, Aceh. Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana banjir yang dialami warga setempat dalam beberapa waktu terakhir. Air bah tiba-tiba menggenangi permukiman penduduk dengan ketinggian mencapai satu meter, memaksa warga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lanjutan.
Sedikitnya lima desa terdampak dalam peristiwa banjir susulan tersebut, yakni Desa Blang Poroh, Desa Meunasah, Desa Meunasah Tambo, Desa Paya Bili, dan Desa Janggot Seungko. Air mulai memasuki kawasan permukiman secara perlahan sebelum akhirnya meluap dan menutup akses jalan antar desa.
Air Datang Tiba-Tiba Tanpa Hujan Lokal
Salah satu hal yang membuat warga terkejut adalah tidak adanya hujan di wilayah desa-desa terdampak saat banjir terjadi. Meski cuaca relatif cerah, air tiba-tiba mengalir deras dan menggenangi rumah warga dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat banyak warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga mereka.
Warga setempat menyebut banjir tersebut sebagai banjir kiriman. Air diduga berasal dari wilayah pegunungan di sekitar Kecamatan Jeunib dan kawasan Peulimbang, yang kemudian mengalir ke daerah hilir. Debit air yang meningkat secara mendadak membuat sungai dan saluran air di sekitar desa tidak mampu menampung aliran tersebut.
Ketinggian Air Capai Satu Meter
Di sejumlah titik, ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar satu meter. Genangan air masuk ke dalam rumah warga, merendam perabotan, peralatan elektronik, serta bahan pangan yang disimpan di rumah. Beberapa warga terpaksa memindahkan anggota keluarga, terutama anak-anak dan lansia, ke tempat yang lebih aman.
Aktivitas warga lumpuh akibat banjir. Jalan desa tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Aliran listrik di beberapa wilayah juga sempat terganggu karena genangan air mendekati instalasi listrik rumah warga.
Banjir Berulang Pasca Banjir Bandang
Warga menyebut bahwa banjir susulan ini bukan yang pertama kali terjadi sejak banjir bandang melanda kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Sejak peristiwa besar tersebut, banjir susulan tercatat telah terjadi beberapa kali dengan intensitas yang bervariasi.
Menurut warga, kerusakan aliran sungai pasca banjir bandang menjadi salah satu penyebab utama banjir yang terus berulang. Sungai yang sebelumnya berfungsi normal kini mengalami pendangkalan, perubahan alur, serta penyempitan akibat material lumpur dan kayu yang terbawa arus deras.
Kerusakan Sungai Diduga Jadi Pemicu
Kerusakan ekosistem sungai di wilayah Jeunib dan sekitarnya diduga memperparah kondisi banjir. Saat debit air meningkat dari hulu, aliran sungai tidak lagi mampu mengalirkan air secara optimal ke hilir. Akibatnya, air meluap ke area permukiman yang berada di sekitar bantaran sungai.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan normalisasi sungai dan perbaikan infrastruktur pengendali banjir. Tanpa penanganan yang menyeluruh, mereka khawatir banjir akan terus berulang, terutama saat curah hujan tinggi di kawasan pegunungan.
Warga Hidup dalam Kecemasan
Banjir susulan yang kerap terjadi membuat warga hidup dalam kecemasan. Banyak keluarga yang memilih tetap berjaga pada malam hari, terutama saat air sungai mulai naik. Sebagian warga bahkan enggan meninggalkan rumah mereka karena khawatir terjadi penjarahan atau kerusakan tambahan.
Kondisi ini berdampak pada aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Petani tidak dapat mengolah lahan, pedagang kesulitan menjalankan usaha, dan anak-anak mengalami gangguan dalam kegiatan belajar akibat kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
Kebutuhan Penanganan Jangka Panjang
Masyarakat menilai penanganan banjir tidak cukup dilakukan secara darurat. Mereka berharap adanya solusi jangka panjang yang mencakup perbaikan alur sungai, pembangunan tanggul, serta sistem peringatan dini banjir kiriman dari wilayah hulu.
Selain itu, koordinasi lintas kecamatan dinilai penting, mengingat sumber banjir tidak selalu berasal dari wilayah Jeunib saja. Kerja sama antarwilayah di Kabupaten Bireuen menjadi kunci untuk mengurangi risiko banjir berulang.
Peran Pemerintah Daerah Dinantikan
Warga menantikan langkah konkret dari pemerintah daerah untuk menanggulangi persoalan banjir yang kian sering terjadi. Mereka berharap adanya pendataan kerusakan, bantuan bagi warga terdampak, serta percepatan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat banjir bandang sebelumnya.
Penanganan yang cepat dan tepat diharapkan dapat mengurangi beban masyarakat serta mencegah dampak yang lebih besar jika banjir kembali terjadi. Tanpa intervensi serius, banjir susulan dikhawatirkan akan terus menjadi ancaman rutin bagi warga Jeunib.
Ancaman Banjir Masih Mengintai
Dengan kondisi sungai yang belum sepenuhnya pulih dan cuaca di wilayah hulu yang sulit diprediksi, ancaman banjir susulan masih mengintai desa-desa di Kecamatan Jeunib. Warga diminta tetap waspada dan segera mengungsi jika ketinggian air kembali meningkat.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan lingkungan dan infrastruktur sungai yang berkelanjutan. Banjir susulan yang terus terjadi tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup dan rasa aman masyarakat.
Baca Juga : Aceh Students Return to Class as Flood Recovery Advances
Cek Juga Artikel Dari Platform : petanimal

